Archive for July, 2005

HARMONI

Thursday, July 28th, 2005

Harmony
Dalam mengatur naluri dan memeluk keharmonisan
Bisakah kau tidak tebagi?
Dalam memusatkan pengaruhmu
Bisakah kau berhasil seperti bayi baru lahir?
Dalam menjernihkan pemahamanmu
Bisakah kau bebas dari kesalahan?
Dalam mencintai orang dan memimpin organisasi
Bisakah kau tidak bertindak?
Dalam membuka dan menutup jalan menuju alam
Bisakah kau tidak melemah?
Dalam melihat jelas ke semua arah
Bisakah kau tanpa pengetahuan?

Batu Ajaib

Monday, July 25th, 2005

Cobalah  perhatikan  yang  senang  mereka sebut tingkah laku
yang bebas dan bertanggung jawab, dan  mungkin  engkau  akan
menemukan  bahwa  itu  bukan  tindakan  yang sadar melainkan
gerakan seperti mesin …

Alkisah, ketika Perpustakaan Pusat di Aleksandria  terbakar,
yang  tinggal  hanyalah  sebuah buku. Buku itu sangat biasa,
lusuh dan tidak menarik, maka dijual dengan  harga  beberapa
sen kepada seorang miskin yang hampir tidak dapat membaca.

Namun  buku  yang  tampaknya  lusuh  dan  tidak  menarik itu
mungkin merupakan buku yang paling berharga di dunia, karena
pada  bagian dalam sampul belakang tertulis beberapa kalimat
dalam huruf besar dan bulat, yang  berisi  rahasia  mengenai
Batu  Ajaib  -  sebutir batu kecil tipis yang dapat mengubah
segala sesuatu yang disentuhnya menjadi emas murni.

Philo_stone

Tulisan itu mengatakan bahwa batu berharga itu  terdapat  di
pantai  Laut  Hitam,  di  antara beribu-ribu batu kecil yang
persis sama bentuknya. Yang  membedakan  Batu  Ajaib  dengan
batu-batu  yang  lain  hanyalah  ini:  batu-batu  lain kalau
disentuh, rasanya dingin, Batu  Ajaib  itu  rasanya  hangat,
seolah-olah  hidup. Orang itu sangat bergembira karena nasib
baik itu. Ia menjual segala sesuatu yang ia miliki, meminjam
uang  yang dapat dipakai selama satu tahun dan pergi ke Laut
Hitam. Di sana ia memasang  kemah  dan  mulai  mencari  Batu
Ajaib itu dengan saksama.

Inilah  cara  ia  bekerja: ia mengangkat sebutir batu, kalau
batu itu dingin, ia tidak melemparkannya kembali  ke  pantai
karena   kalau  demikian  mungkin  ia  akan  mengangkat  dan
merasakannya  berpuluh-puluh  kali.  Batu  dingin   itu   ia
lemparkan  ke  laut.  Demikian setiap hari selama berjam-jam
terus-menerus  dengan  tekun  ia  bertahan  dalam  usahanya:
mengangkat sebutir batu, kalau terasa dingin, melemparkannya
ke laut. Mengangkat yang lain  …  demikian  terus  menerus
tidak pernah berhenti.

Satu  minggu  lewat,  satu  bulan, sepuluh bulan, satu tahun
penuh, ia terus bekerja. Lalu  ia  meminjam  uang  lagi  dan
bertahan  terus  sampai  dua tahun. Begitu ia terus bekerja:
mengangkat  sebutir  batu,  merasakannya  …  kalau  terasa
dingin,    melemparkannya   ke   dalam   laut.   Berjam-jam,
berhari-hari, berminggu-minggu  …  masih  belum  menemukan
Batu Ajaib.

Pada suatu sore ia mengambil sebutir batu dan rasanya hangat
- dan karena kekuatan  kebiasaannya,  ia  melemparkannya  ke
Laut Hitam!

The Problem of Suffering

Thursday, July 21st, 2005

         The only thing that stands between ourselves and freedom is our incapacity or refusal to see ourselves squarely as we are. Suffering forces us to face ourselves and there is no other remedy for suffering but to submit to its imperious demand for self awareness. Suffering is the great awakener and the only adequate response is to be glad to be awakened.
When we suffer, we seek remedies, we look for an escape from suffering. Our various escapes are completely ineffective, mere concepts which help us to forget ourselves as long as we are busy in their construction, but are unable to uncover the deep and permanent roots of sorrow. It is only when we don’t turn our eyes away from suffering, when we open ourselves entirely to its cleansing rays, it can complete its task and disappear spontaneously, without leaving any residue.
In other words : our way to liberation from suffering lies through the suffering itself. Suffering is but intense clarity of thoughts and feelings which makes us see things as they are.
As you wouldn’t like to change something very beautiful : the light of the setting sun, the shape of a tree in the field, so don’t put obstacles in the way of suffering. Allow it to ripen, for with its flowering understanding comes. When you become aware of the wound of sorrow, without the reaction of acceptance, resignation or negation, without any artificial invitation, then suffering itself lights the flame of creative understanding.

Pameran Agama

Thursday, July 21st, 2005

Bersama seorang teman lain, kami mengunjungi sebuah pameran dunia agama-agama (pameran ini diikuti oleh agama Yahudi, Kristen dan Islam). Persaingan erat sangat terasa, disertai berbagai propaganda yang sungguh keras. Dari bagian agama Yahudi diterima informasi bahwa Allah berbelas kasih, dan orang-orang Yahudi adalah bangsa terpilih. Pada bagian agama Kristen diwartakan bahwa Allah adalah kasih. Di luar Gereja tidak ada keselamatan. Hanya anggota-anggota Gereja saja yang terbebas dari bahaya keterkutukan kekal. Pada bagian agama Islam diperoleh informasi bahwa Allah Maha Besar dan Mulia, dan Muhammadlah satu-satunya Nabi. Keselamatan diperoleh apabila mendengarkan Muhammad, satu-satunya utusan Allah.

Cerita di atas menunjukkan suatu “perbedaan” yang ekstrim. Dan marilah kita sejenak bermimpi, jika dari perbedaan ini bisa kita wujudkan sebuah sinergi menurut pandangan dan langkah-langkah yang dituturkan oleh Stephen R Covey dalam 7 habits of highly effective people, dunia akan mengalami sebuah lompatan kuantum kemajuan dalam kemanusiaan. Kita sebagai ras manusia akan siap untuk ber”evolusi” baik mental, spiritual dan “material” menuju ke tahap yang lebih tinggi. Sehingga setiap orang akan menjadi seperti Yesus, Muhammad, Budha, Krishna, Sai Baba atau apes-apesnya akan menjadi seperti Rumi, Gandhi, Krishnamurti, Vivekananda, Bunda Teresa, Lao Tze.
Beranikah kita mempunyai impian semacam itu? Atau setidaknya, punyakah sekilas pemikiran atau “insight” tentang itu?

The Secret of Happiness

Thursday, July 21st, 2005

A certain shopkeeper sent his son to learn about the secret of happiness from the wisest man in the world. The lad wandered through the desert and finally came upon a beautiful castle, high atop a mountain. It was there that the wise man lived.
The wise man listened attentively to the boy’s explanation of why he had come, but told him that he didn’t have time just then to explain the secret of happiness. He suggested that the boy look around the palace and return in two hours.
“Meanwhile, I want to ask you to do something”, said the wise man, handing the boy a teaspoon that held two drops of oil. “As you wander around, carry this spoon with you without allowing the oil to spill”
The boy began climbing and descending the many stairways of the palace, keeping his eyes fixed on the spoon. After two hours, he returned to the room where the wise man was.
“Well”, asked the wise man, “did you see the Persian tapestries that are hanging in my dining hall?” Did you see the garden that it took the master gardener ten years to create? Did you notice the beautiful parchments in my library?”
The boy was embarrassed, and confessed that he had observed nothing. His only concern had been not to spill the oil that the wise man had entrusted to him.
“Then go back and observe the marvels of my world,” said the wise man. “You can’t trust a man if you don’t know his house”.
Relieved, the boy picked up the spoon and returned to his exploration of the palace, this time observing all of the works of art on the ceilings and the walls. He saw the gardens, the mountains all around him, the beauty of the flowers, and the taste with which everything had been selected. Upon returning to the wise man, he related in detail everything he had seen.
“But where are the drops of oil I entrusted to you?” asked the wise man.
Looking down at the spoon he held, the boy saw that the oil was gone.
“Well, there is only one piece of advice I can give you,” said the wise man. “The secret of happiness is to see all the marvels of the world, and never to forget the drops of oil on the spoon”.

Hitam atau putih

Thursday, July 21st, 2005

Seorang gembala sedang menggembalakan dombanya. Seorang yang
lewat berkata, “Engkau mempunyai kawanan domba yang bagus.
Bolehkan saya mengajukan beberapa pertanyaan tentang
domba-domba itu?” “Tentu,” kata gembala itu. Orang itu
berkata, “Berapa jauh domba-dombamu berjalan setiap hari?”
“Yang mana, yang putih atau yang hitam?” “Yang putih.” “Ah,
yang putih berjalan sekitar enam kilometer setiap hari.”
“Dan yang hitam?” “Yang hitam juga.”

“Dan berapa banyak rumput mereka makan setiap hari?” “Yang
mana, yang putih atau yang hitam?” “Yang putih.” “Ah, yang
putih makan sekitar empat pon rumput setiap hari.” “Dan yang
hitam?” “Yang hitam juga.” “Dan berapa banyak bulu yang
mereka hasilkan setiap tahun?” “Yang mana, yang putih atau
yang hitam?” “Yang putih.” “Ah menurut perkiraan saya, yang
putih menghasilkan sekitar enam pon bulu setiap tahun kalau
mereka dicukur.” “Dan yang hitam?” “Yang hitam juga.”

Orang yang bertanya menjadi penasaran. “Bolehkah saya
bertanya, mengapa engkau mempunyai kebiasaan yang aneh,
membedakan dombamu menjadi domba putih dan hitam setiap kali
engkau menjawab pertanyaanku?” Gembala itu menjawab, “Tentu
saja. Yang putih adalah milik saya.” “Ooo, dan yang hitam?”
“Yang hitam juga,” kata gembala itu.

Pikiran manusia membuat pemisahan-pemisahan yang bodoh, yang
oleh Sang Kasih dilihat sebagai satu.

Sebuah Pencarian

Thursday, July 21st, 2005

Siapa aku? Untuk apa aku berada disini? Mengapa aku terperangkap disini, dalam sebuah tubuh seperti ini, dengan segala pemikirannya, keterbatasannya, kecenderungannya, keinginannya… Adakah orang2 merasakan hal yang sama denganku?
Ketika pertanyaan eksistensial ini muncul dalam kesendirianku, keheninganku, pikiranku senantiasa menggiring jawaban-jawabannya kepada sesuatu yang sudah kuketahui sebelumnya. Mencari referensi pada buku-buku, kitab suci, ideologi, pemikiran yang semuanya usang.
Filsafat eksistensialisme dari Sartre tidak menjawab tuntas pertanyaan ini. Gagasan fisika kuantum mengenai keberadaan yang digambarkan Fritjof Capra mungkin bisa sedikit mencerahkan. Cerita tentang medan energi dari bukunya James Redfield juga memberikan wawasan baru. Yang paling mengguncangkan adalah rangkuman wejangan tentang meditasi dari Jiddu Krishnamurti. Anekdot dan cerita dari Anthony de Mello, kisah2 Sufi, Zen dan Tao juga sungguh menentramkan.
Tapi tetap sulit menemukan suatu saat ketika batin benar-benar jernih yang muncul hanya dalam kilatan kesadaran sekilas… Apakah memang ada yang namanya suatu saat?
Sampai suatu saat pula aku menemukan bahwa pertanyaan dan jawaban itu sendiri tidak relevan. Seperti cerita dibawah ini :

Seorang pelukis besar minta agar temannya, seorang dokter,
datang dan melihat hasil karya yang ia anggap paling baik.
Dokter itu mengamati lukisan dengan sangat saksama,
memeriksanya sampai hal-hal yang kecil. Sepuluh menit
berlalu dan sang pelukis menjadi sedikit khawatir “Bagaimana
pendapatmu,” tanyanya.
Dokter itu berkata, “Kelihatannya seperti radang paru-paru
ganda. ”

Tuhan

Wednesday, July 20th, 2005

Tuhan bagiku tidak penting sama sekali. Maksudku Tuhan seperti yang dikenal oleh orang, masyarakat, kebudayaan dan agama pada umumnya. Bukan berarti aku anti Tuhan atau agama. Hanya saja aku menolak pandangan agama dan orang2 yang menjadikan Tuhan sebagai berhala.
Apakah berhala itu? Pada umumnya orang menganggap berhala adalah patung atau benda2 yang disembah dan dianggap sebagai Tuhan, penguasa, dewa atau apapun namanya itu. Dan berhala itu menjadi ilusi yang menghalangi manusia untuk mengalami “keberadaan” dan mendapatkan pencerahan batin. Tetapi ketika benda2 itu menjadikan manusia lebih dekat dengan alam, dengan sesamanya, dengan keberadaan, dan membantu manusia mengalami pencerahan maka itu bukan berhala lagi namanya.
Nah… bagaimana ketika Tuhan menjadi berhala?
Manusia memiliki gambarannya sendiri2 tentang Tuhan, bahwa Tuhan itu seperti ini atau seperti itu, entah dia mendapatkan gambaran tentang Tuhan dari agama, budaya, sejarah, adat, ideologi atau apapun. Terjadilah pertengkaran, perdebatan, perselisihan dan peperangan atas nama Tuhan seperti yang terjadi di seluruh dunia. Tuhan telah menjadi penghalang terbesar bagi manusia untuk mencapai Tuhan itu sendiri. Tuhan macam apa yang meninggikan derajat salah satu golongan orang dan menistakan yang lain? Tuhan macam apa yang masih mengkotak-kotakkan makhluk bahkan setelah mati sekalipun. Tuhan macam apa yang memerintahkan untuk mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya? Kalau memang Tuhan “sebodoh” itu saya memilih untuk tidak bertuhan. Bukankah Tuhan tak perlu dibela? Bukankah Tuhan tidak perlu ditakuti?
Jauh lebih baik menuhankan batu daripada membatukan Tuhan….