MOTIVASI

Krishna1
Krishna berkata :
Berkaryalah tanpa mengharapkan hasil akhir
Jiwamu pasti tenang
Berkaryalah dengan selalu mengharapkan hasil akhir
Jiwamu pasti gelisah
Tuhan tidak menentukan kegelisahan dan ketenangan jiwamu
Kau sendiri yang menentukannya dengan perbuatanmu, ulahmu

Begitulah kita terjangkit enggan bekerja, kalau bisa maunya memperoleh hasil tanpa bekerja. Tidak mengherankan bila kita selalu membutuhkan motivasi, dan motivasi bisa berupa uang, kedudukan, ketenaran… Berdoa dan beribadahpun, bila tidak dijanjikan surga atau pahala, belum tentu kita mau.
Bisnis jasa konsultan motivasi sekarang sangat marak, karena kita tidak bisa lagi memahami apa arti bekerja tanpa pamrih, “bekerja demi pekerjaan itu sendiri” kata Svami Vivekananda…

Aku sering merasa geli melihat banyaknya tokoh-tokoh agama “berkicau”, berkhotbah, menyebar kebencian dan rasa takut, untuk memotivasi (kalau tidak boleh dibilang menakut-nakuti) umatnya untuk berlomba meraih pahala dan masuk surga. Apalagi dengan banyaknya sinetron Rahasia Ilahi yang lebih banyak mengada-adanya, kampungan dan tidak mendidik sama sekali. Yang lebih bikin geli lagi, banyak juga orang yang suka nontonnya. Jamane pancen jaman “edhian” kata Ronggowarsito…
“Takutlah kepada Tuhan”, katanya, “Satu-satunya yang harus ditakuti adalah Tuhan” kata penceramah… BETAPA TOLOLNYA. Bukankah sesuatu yang kita takuti itu justru sesuatu yang kita benci, tidak mungkin kita cintai? Kalau kita takut kepada Tuhan, bukankah berarti kita tidak mungkin dekat dengan Tuhan? Anak-anak saja tau… Lagipula apa kepentingannya penceramah itu berbuat seperti itu. Mengherankan bukan?

Sekarang juga sedang marak-maraknya diselenggarakan kursus ESQ, supaya cerdas intelek, cerdas emosi dan cerdas spiritual. Tapi para orang cerdas ini belum teruji kecerdasannya. Lagipula kecerdasan saja tidak membantu. Karena kecerdasan itu sendiri sudah merupakan “buah pikiran” – dan spiritualitas bukanlah buah pikiran. Arogansi mereka terbukti oleh istilah-istilah yang mereka pakai : “Zero Mind” misalnya – apa maksudnya? Apakah mereka tidak pernah belajar, setidaknya membaca tentang meditasi Vippasana (Budhist), Tonglen (Dalai Lama, yang sesungguhnya diajarkan oleh Dharmakirti kepada Atisha), merenungkan “Koan” (Zen / Tao), Yoga (Patanjali) atau dari berbagai sumber dan referensi lainnya… Lucu sekali kalau mencoba untuk memonopoli kebenaran dari sudut pandangnya dan ajaran agamanya sendiri. Itu sendiri merupakan suatu tanda ketidakcerdasan, IGNORANCE…

Leave a Reply