Archive for March, 2006

Unity In Diversity

Wednesday, March 29th, 2006

Gold200_1
Ekam Sat Vipraah Bahudhaa Vadanti :
Kebenaran (Tuhan) itu satu, tetapi cendekiawan menyebutnya dengan berbagai nama

Semua nama dan wujud merupakan imajinasi manusia. Bagaikan air yang tidak punya bentuk tertentu, tetapi mengambil bentuk wadah tempat ia dituangkan.

Rasanya hampir bosan menunggu kembalinya "akal sehat" dari saudara-saudaraku yang saling bertengkar membela Tuhan dan kebenarannya sendiri. Kapankah zaman Kala Bendu ini akan berakhir?
Kata Emha Ainun Najib, agama itu seperti istri atau suami kita sendiri. Merupakan pilihan yang sangat pribadi, sesuai dengan selera kita. Kalau istri atau suami tetangga kita hidungnya pesek, rambutnya kriting, kulitnya item atau giginya agak tonggos, nggak perlulah kita sampai menjelekkan atau ribut bergunjing kesana kemari, cukup disimpan dalam hati. Lha wong itu bukan urusan kita, jadi nggak usah usil lah.

Rasanya miris menyaksikan sampai anak-anak kecil ikut-ikutan melempari rumah orang yang tidak satu keyakinan dengannya. Ternyata bibit-bibit kebencian, permusuhan dan kecurigaan telah ditanamkan sejak usia dini di negeri ini. "Mentang-mentang" merasa mayoritas mereka merasa jumawa dan merasa berhak untuk menghakimi kelompok yang lebih minoritas.
Jika ada satu kelompok yang terdiri dari 10 orang, 9 orang gila dan yang waras hanya 1 orang, hampir pasti yang 1 orang itulah yang dianggap gila karena berbeda dan nyeleneh sendiri. Begitulah kira-kira situasi di negeri ini. Terbukti dengan peringkat KKN ke-3 tertinggi di dunia.

Ternyata ajaran agama belum bisa menjadi suluh penerang kegelapan nurani. Ajaran agama masih dibungkus oleh pemahaman untung rugi yang menjerat. Kurang mengedepankan akal budi sebagai pemecah persoalan di atas rasio kesadaran.
Sebenarnya rumusnya sederhana saja : Lihatlah yang baik, Dengarkan dengan baik, Kerjakan dengan baik dan…. jadilah baik (See good, Do good, and Be good). Tapi pelaksanaannya dalam tindakan nyata… wualaahhh beratt..!
Untuk melakukannya ada baiknya disimak kata-kata bijak ini : Tangan-tangan yang melakukan pelayanan lebih suci daripada bibir yang berdoa.

MEDITASI

Monday, March 20th, 2006

LotusgloMeditasi tak pernah berarti berdoa. Doa dan permohonan lahir dari rasa iba diri. Kita meminta apabila kita dalam kesulitan. Kita memohon bila ada kesedihan. Apabila ada kegembiraan dan kebahagiaan, tak ada permohonan.

Rasa iba diri yang begitu terpancang dalam hati manusia, ini merupakan akar keterpisahan. Sesuatu yang terpisah atau yang mengira dirinya terpisah - dan yang selalu mencari identifikasinya dengan sesuatu yang tidak terpisah - hanya membawa lebih banyak pemisahan dan kepedihan.

Dari kebingungan dan kepedihan itu orang menangis mengiba-iba memohon kepada surga, atau kepada suatu Tuhan "buatan" akal manusia. Permohonan ini mungkin akan mendapatkan jawaban tetapi jawaban itu tak lain adalah gaung dari perasaan iba diri, dalam keterpisahannya.

Pengulangan kata-kata dan dan doa-doa bersifat menghipnosa diri, menutup diri dan destruktif. Pemisahan oleh pikiran selalu terjadi dalam medan yang dikenal, dan jawaban atas doa adalah jawaban dari yang dikenal.

Meditasi jauh dari ini. Dalam medan ini, pikiran tak bisa masuk; tak ada pemisahan, dan karena itu tak ada identitas. Meditasi ialah berada dalam keterbukaan; tak ada tempat bagi rahasia. Segalanya nampak, jelas; maka, keindahan cinta itu ada.

Berapa Usiamu..?

Sunday, March 19th, 2006

ReincarnationSebelum anda bergegas menjawab, renungkanlah bahwa ada tiga cara yang berbeda dan terpisah untuk mengukur usia seseorang :

Usia kronologis - usia menurut penanggalan.
Usia biologis - usia tubuh dalam arti tanda-tanda hidup yang kritis serta proses-proses sel.
Usia psikologis - seberapa tua menurut perasaan anda.

Hanya yang pertama saja yang tetap, namun usia kronologis itu merupakan usia yang paling tidak handal diantara ketiganya. Seorang yang berusia 50 tahun barangkali hampir sama sehatnya dengan sewaktu ia berusia 25 tahun, sementara orang lain sudah mempunyai tubuh yang usianya 60 tahun atau bahkan 70 tahun. Untuk sungguh-sungguh mengetahui berapa usia kita, pengukuran kedua - usia biologis - masuk perhitungan; umur ini memberi tahu kita bagaimana waktu itu telah menimpakan pengaruhnya pada organ-organ dan jaringan-jaringan kita dibandingkan dengan orang lain yang usia kronologisnya sama dengan usia kita.

Tetapi waktu tidak mempengaruhi tubuh kita secara merata; praktis setiap sel, jaringan, dan organ menua menurut jadwalnya sendiri-sendiri, hal ini membuat usia biologis jauh lebih kompleks daripada usia kronologis. Seorang pelari maraton berusia setengah umur barangkali mempunyai otot-otot kaki, jantung dan paru-paru sama dengan milik pria separo usianya, tetapi lutut dan ginjalnya boleh jadi menua dengan cepat karena menanggung tekanan terlalu banyak, dan pandangan matanya serta pendengarannya dapat merosot menurut jalur mereka sendiri yang khas. Pada umur 20 tahun, ketika perkembangan otot, refleks-refleks, dorongan asmara, dan banyak fungsi primer lainnya mencapai puncaknya, kebanyakan orang tampak samabagi mata seorang ahli fisiologi. Tetapi pada umur 70 tahun, tidak ada dua tubuh yang sedikit agak mirip. Pada usia itu, tubuh kita tidak anak mirip dengan tubuh orang lain mana pun di dunia; perubahan-perubahan usianya akan mencerminkan kekhususan hidup kita. Singkatnya, kita menjadi unik sewaktu kita bertambah usia.

Dua pasien serangan otak yang berusia sekitar 55 tahun dengan keadaan kesehatan yang sama dapat, dan sering kali memang begitu, menunjukkan hasil-hasil yang jauh sekali bedanya - yang satu dapat sembuh dari serangannya dengan cepat, menanggapi terapi fisik dengan baik, dan kemudian sembuh. Yang lain dapat menanggapi terapi dengan buruk, terlanda depresi, dan menyerah kalah hingga tidak mau melakukan usaha-usaha aktif; dalam waktu singkat ia akan menjadi tua dan mati. Faktor yang menentukan ialah usia psikologis, yang merupakan unsur paling pribadi dan paling serius dari ketiga pengukuran itu tetapi juga merupakan hal yang paling banyak menyimpan harapan untuk mengubah proses menua itu.

Tubuh kita menjadi lebih muda atau lebih tua secara biologis tergantung kepada bagaimana kita memperlakukannya. Namun usia psikologis lebih lentur lagi. Seberapa tua rasa kita tidak mempunyai batas-batas dan dapat dibalikkan dalam waktu sedetik.

Jadi, berapa usia anda sekarang…???

TARIAN SHIVA

Friday, March 17th, 2006

Nata15Tarian Shiva bukan hanya menyimbolkan siklus kosmis penciptaan dan penghancuran, tetapi juga merupakan ritme kehidupan dan kematian sehari-hari yang merupakan dasar dari seluruh eksistensi. Pada saat bersamaan, Shiva mengingatkan kita bahwa bentuk-bentuk ganda dalam dunia adalah maya - bukanlah fundamental, tetapi ilusif dan selalu berubah - karena Dia tetap mencipta dan menghancurkan dalam aliran yang tiada henti dalam tariannya.

Seperti diungkapkan Heinrich Zimmer :
Gestur-gestur liar dan penuh karuniaNya, mempercepat ilusi kosmis; lengan-lengan dan kaki-kaki yang melayang dan berayun dari torsonya menghasilkan - pada dasarnya, mereka adalah - penciptaan-penghancuran yang berkesinambungan dari alam semesta, kematian dengan tepat menyeimbangkan kelahiran, pemusnahan tujuan dari yang akan menjelang.

Makna-makna yang bervariasi dari tarian ini diberikan secara detail oleh bentuk-bentuk ini dalam sebuah alegori bergambar yang rumit. Tangan kanan yang paling atas memegang gendang yang menyimbolkan suara primer penciptaan; tangan kiri yang paling atas menyemburkan lidah api, elemen penghancuran. Keseimbangan dua tangan yang merepresentasikan keseimbangan yang dinamis dari penciptaan dan penghancuran dalam dunia, ditekankan lebih jauh lagi lewat wajah yang tenang dan lepas dari sang penari dalam pusat kedua tangan yang didalamnya polaritas penciptaan dan penghancuran dipisahkan dan dilampaui. Tangan kanan yang kedua dimunculkan dalam tanda "jangan takut", menyimbolkan pemeliharaan, perlindungan, dan kedamaian, sementara tangan kiri yang berikutnya menunjuk kebawah ke arah kaki yang terangkat yang menyimbolkan kebebasan mantera maya. Shiva digambarkan seolah-olah sedang menari di atas tubuh seorang iblis, simbol pengabaian manusia yang harus ditaklukkan sebelum pembebasan dicapai.
Nata5
Tarian Shiva adalah tarian alam semesta; aliran yang tiada henti dari energi yang melewati ragam pola yang tak terhingga yang bercampur antara satu dengan lainnya.

Fisika modern telah menunjukkan bahwa ritme penciptaan dan penghancuran bukan hanya manifestasi dalam membalikkan musim-musim dan dalam kelahiran dan kematian setiap makhluk hidup, tetapi juga merupakan materi anorganik yang paling inti. Berdasarkan teori medan kuantum, setiap interaksi antar berbagai struktur materi berperan melalui emisi dan absorbsi partikel-partikel virtual. Lebih jauh lagi, tarian penciptaan dan penghancuran merupakan dasar yang paling eksistensial dalam materi, karena setiap partikel materi "menginteraksi diri" dengan mengemisi dan mengabsorbsi partikel-partikel virtual. Fisika modern juga mengumumkan bahwa setiap partikel subatom tidak hanya menampakkan tarian energi, tetapi juga merupakan tarian energi itu sendiri; sebuah proses yang bergetar dari penciptaan dan penghancuran.

Bagi para fisikawan modern, tarian Shiva merupakan tarian materi subatom. Seperti halnya dalam mitologi Hindu, ia merupakan tarian yang berkesinambungan dari penciptaan dan penghancuran yang melibatkan seluruh kosmos; dasar dari seluruh eksistensi dan dari seluruh fenomena alam. Beratus-ratus tahun silam, seniman-seniman India Menciptakan gambaran-gambaran visual dari Shiva yang sedang menari, pada masa sekarang ini, para fisikawan telah menggunakan teknologi yang paling maju untuk memotret pola-pola tarian kosmis. Foto-foto kamar gelembung partikel-partikel yang sedang berinteraksi yang melahirkan kesaksian tentang ritme yang berkesinambuangan dari usaha penciptaan dan penghancuran alam semesta, merupakan gambaran visual tarian Shiva yang menyeimbangkan gambaran-gambaran para seniman India dalam guratan yang indah dan mendalam. Metafora tarian kosmis juga telah menyatukan mitologi kuno, seni religius dan fisika modern.

MEDITASI

Friday, March 17th, 2006

ContemplationBetapa luar biasanya meditasi itu. Jika ada keterpaksaan sedikitpun - usaha untuk menyesuaikan pikiran, usaha untuk meniru - meditasi menjadi beban yang menjemukan. Keheningan yang diinginkan tidak lagi memberi penerangan. Jika yang dikejar itu sebuah ‘vision’ dan pengalaman, maka meditasi menuju pada ilusi dan hipnosa diri.

Hanya dalam berkembangnya pikiran - dan karena itu berakhirnya pikiran - meditasi ada artinya. Pikiran hanya bisa berkembang dalam kebebasan, bukan dengan bertambah luasnya pola-pola pengetahuan. Pengetahuan mungkin memberikan pengalaman-pengalaman lebih baru tentang rangsangan yang lebih besar, tetapi batin yang mencari-cari pengalaman bentuk apapun adalah batin yang tidak dewasa. Kedewasaan adalah kebebasan dari semua pengalaman. Ia sedikitpun tidak lagi dipengaruhi oleh keinginan untuk ada ataupun tidak ada.

Kedewasaan dalam meditasi ialah pembebasan batin dari pengetahuan, sebab pengetahuan membentuk dan mengontrol semua pengalaman. Ketidakdewasaan adalah dirindukannya pengalaman yang lebih besar dan lebih luas. Meditasi ialah berkelana di dunia pengetahuan dan dalam keadaan bebas dari dunia itu memasuki sesuatu yang tak dikenal.
 

Suatu sore…

Friday, March 17th, 2006

P1000606
Sore ini tidak jauh beda dengan sore - sore yang lain. Kondisi perusahaan yang sedang dalam transisi yang berkepanjangan membuat ketidakpastian semakin menggelisahkan. Cukup mengherankan juga, mengapa hampir semua orang selalu mengharapkan kepastian.

Seorang kekasih butuh kepastian dari belahan jiwanya bahwa mereka akan selalu bersama untuk selamanya. Seorang jobseeker ingin bekerja di perusahaan besar dan bonafid untuk mendapat kepastian agar hidupnya bakal terjamin. Tidak sedikit orang-orang yang mendaftar CPNS walaupun tahu bahwa gajinya kecil, tapi tetap saja mereka mengejarnya demi sebuah kepastian.

Sementara burung-burung tetap beterbangan mengikuti angin tanpa kepastian bahwa sore ini esok atau lusa mereka akan makan dimana, kawin dengan siapa atau mungkin bernasib apes terkena lontaran batu yang ditembakkan dari ketapel seorang anak yang iseng. Mereka tidak pernah mencari yang namanya kepastian, karena mungkin itu bukan termasuk sesuatu yang bisa dimakan.

Air di sungai mengalir begitu saja mencari tempat yang lebih rendah karena itu sudah menjadi sifatnya. Mereka tidak peduli jika matahari akan mengubahnya menjadi uap dan justru naik ke langit menjadi awan. Mereka juga tidak marah ketika tanah dan lumpur membuatnya jadi kotor. Ketika mengalami halangan, mereka juga rela saja untuk menggenang. Sepertinya mereka tidak merasa bersalah ketika menjadi banjir dan menghanyutkan rumah orang, meluluhlantakkan ladang, menghanyutkan harta benda. Juga mereka tidak merasa berjasa telah menghilangkan rasa dahaga seseorang, membuat tumbuh pepohonan, mencuci bersih segala kekotoran.

Tidak ada yang pasti di alam ini. Dalam fisika ada yang namanya hukum / azas ketidakpastian. Hanya ada satu yang pasti, yaitu perubahan.

Jadi kenapa aku tidak bisa melihat sore ini berbeda dari sore kemarin? Akankah sore besok juga akan sama seperti sekarang? Apakah sesungguhnya yang disebut sore itu?