Suatu sore…

P1000606
Sore ini tidak jauh beda dengan sore - sore yang lain. Kondisi perusahaan yang sedang dalam transisi yang berkepanjangan membuat ketidakpastian semakin menggelisahkan. Cukup mengherankan juga, mengapa hampir semua orang selalu mengharapkan kepastian.

Seorang kekasih butuh kepastian dari belahan jiwanya bahwa mereka akan selalu bersama untuk selamanya. Seorang jobseeker ingin bekerja di perusahaan besar dan bonafid untuk mendapat kepastian agar hidupnya bakal terjamin. Tidak sedikit orang-orang yang mendaftar CPNS walaupun tahu bahwa gajinya kecil, tapi tetap saja mereka mengejarnya demi sebuah kepastian.

Sementara burung-burung tetap beterbangan mengikuti angin tanpa kepastian bahwa sore ini esok atau lusa mereka akan makan dimana, kawin dengan siapa atau mungkin bernasib apes terkena lontaran batu yang ditembakkan dari ketapel seorang anak yang iseng. Mereka tidak pernah mencari yang namanya kepastian, karena mungkin itu bukan termasuk sesuatu yang bisa dimakan.

Air di sungai mengalir begitu saja mencari tempat yang lebih rendah karena itu sudah menjadi sifatnya. Mereka tidak peduli jika matahari akan mengubahnya menjadi uap dan justru naik ke langit menjadi awan. Mereka juga tidak marah ketika tanah dan lumpur membuatnya jadi kotor. Ketika mengalami halangan, mereka juga rela saja untuk menggenang. Sepertinya mereka tidak merasa bersalah ketika menjadi banjir dan menghanyutkan rumah orang, meluluhlantakkan ladang, menghanyutkan harta benda. Juga mereka tidak merasa berjasa telah menghilangkan rasa dahaga seseorang, membuat tumbuh pepohonan, mencuci bersih segala kekotoran.

Tidak ada yang pasti di alam ini. Dalam fisika ada yang namanya hukum / azas ketidakpastian. Hanya ada satu yang pasti, yaitu perubahan.

Jadi kenapa aku tidak bisa melihat sore ini berbeda dari sore kemarin? Akankah sore besok juga akan sama seperti sekarang? Apakah sesungguhnya yang disebut sore itu?

Leave a Reply