Unity In Diversity

Gold200_1
Ekam Sat Vipraah Bahudhaa Vadanti :
Kebenaran (Tuhan) itu satu, tetapi cendekiawan menyebutnya dengan berbagai nama

Semua nama dan wujud merupakan imajinasi manusia. Bagaikan air yang tidak punya bentuk tertentu, tetapi mengambil bentuk wadah tempat ia dituangkan.

Rasanya hampir bosan menunggu kembalinya "akal sehat" dari saudara-saudaraku yang saling bertengkar membela Tuhan dan kebenarannya sendiri. Kapankah zaman Kala Bendu ini akan berakhir?
Kata Emha Ainun Najib, agama itu seperti istri atau suami kita sendiri. Merupakan pilihan yang sangat pribadi, sesuai dengan selera kita. Kalau istri atau suami tetangga kita hidungnya pesek, rambutnya kriting, kulitnya item atau giginya agak tonggos, nggak perlulah kita sampai menjelekkan atau ribut bergunjing kesana kemari, cukup disimpan dalam hati. Lha wong itu bukan urusan kita, jadi nggak usah usil lah.

Rasanya miris menyaksikan sampai anak-anak kecil ikut-ikutan melempari rumah orang yang tidak satu keyakinan dengannya. Ternyata bibit-bibit kebencian, permusuhan dan kecurigaan telah ditanamkan sejak usia dini di negeri ini. "Mentang-mentang" merasa mayoritas mereka merasa jumawa dan merasa berhak untuk menghakimi kelompok yang lebih minoritas.
Jika ada satu kelompok yang terdiri dari 10 orang, 9 orang gila dan yang waras hanya 1 orang, hampir pasti yang 1 orang itulah yang dianggap gila karena berbeda dan nyeleneh sendiri. Begitulah kira-kira situasi di negeri ini. Terbukti dengan peringkat KKN ke-3 tertinggi di dunia.

Ternyata ajaran agama belum bisa menjadi suluh penerang kegelapan nurani. Ajaran agama masih dibungkus oleh pemahaman untung rugi yang menjerat. Kurang mengedepankan akal budi sebagai pemecah persoalan di atas rasio kesadaran.
Sebenarnya rumusnya sederhana saja : Lihatlah yang baik, Dengarkan dengan baik, Kerjakan dengan baik dan…. jadilah baik (See good, Do good, and Be good). Tapi pelaksanaannya dalam tindakan nyata… wualaahhh beratt..!
Untuk melakukannya ada baiknya disimak kata-kata bijak ini : Tangan-tangan yang melakukan pelayanan lebih suci daripada bibir yang berdoa.

Leave a Reply